Hal apa yang kamu pikirkan dihari kelulusan kamu?
pertanyaan ini yang membuat saya berpikir keras, padahal ini bukan pertanyaan eksak. Pertanyaan yang menimbulkan pertanyaan tandem pada diri sendiri, saya malah mempertanyakan apa yang sebenarnya saya inginkan.
Pikiran saya sibuk mencari jawaban yang malah bertumbukan dengan pertanyaan baru yang saya buat untuk diri sendiri. Dari pertanyaan itu, kita malah berpikir sebetulnya apa yang kita cari?
Lulus di perguruan tinggi. What next?
Beberapa orang menjawab ada yang berniat untuk "sekolah" lagi.
Ya memang sekolah itu candu, kita masih ingin mengejar sesuatu di bangku sekolah, meneruskan jenjang pendidikan yang lebih tinggi agar pendapatan juga semakin tinggi. Kita lupa, ini dunianya manusia yang semuanya paradoks, dimana sistem ekonomi kita ini stabil-dinamis, pribadinya humanis-sadis, selalu ada double strandard dalam keinginan kita, sehingga ingin sekolah-sambil kerja, ingin menjadi PNS-namun punya bisnis, dan ingin menjadi sosialis-namun mencari celah agar kegiatannya sosialnya meraup keuntungan, terlalu kompleks.
Kebanyakan orang memilih bekerja.
Beberapa teman ada yang langsung bekerja, bahkan sebelum wisuda sudah bekerja, saya memilih untuk menyandang status pengangguran dalam waktu 2 bulan, karena saya masih bingung apa yang ingin saya lakukan, bekerja bukan perkara mudah, kata orang capek, sebagian orang bilang bekerja itu menyenangkan asal sesuai passion, beberapa orang lagi pun berpendapat bekerja tidak harus sesuai passion yang penting upahnya sesuai untuk kebutuhan, ya berbagai macam sudut pandang orang, saya yakin kita semua punya sudut pandang masing-masing.
Apapun pilihannya, pertanyaannya tetap sama, apa yang kita inginkan? apa yang kita cari?
Empat jam saya berbincang dengan 2 orang yang menjadi "otak" dalam salah suatu perusahaan, perbincangan ini mengarah pada apa yang sebenarnya saya inginkan, dan mereka inginkan, saya menyebutnya ini identifipassion*, perbincangan selama empat jam tidak terasa, saya pikir sudut pandang saya diuji, saya menggali pikiran saya, membuat saya berusaha memahami diri sendiri.
Empat hari yang lalu saya menuliskan passion saya, tulisan-tulisan itu saya menyebutnya "ini passion saya berdasarkan pengalaman saya", jelas-jelas itu bukan passion, mana ada passion berdasarkan pengalaman kerja, passion itu tidak terpengaruh faktor diluar diri, passion ada di dalam diri kita, panggilan jiwa. Saya putuskan hal itu hanya list keinginan manusia yang banyak maunya, ribet, dan memiliki multi standard dalam hidupnya, ya itulah diri saya tertampar hingga sadar saat saya berbincang dengan 2 orang super yang saya jumpai di penghujung bulan september.
Setelah saya menemukannya apa yang saya inginkan dalam identifipassion ini, saya menjadi merasa senang, rasa senangnya sampai ingin berteriak kencang, kedengarannya memang berlebihan, but It's real. Ketika kita menyadari apa sebenarnya passion kita sendiri, itu akan menimbulkan rasa senang yang aneh, seperti menemukan sesuatu yang telah lama kita kubur dalam, tertumpuk ego dan keinginan multi standard.
Multi Standard, Uang, & Passion
Banyak faktor yang membuat kita menjadi multi standard, salah satunya diri sendiri dan orangtua yang expect too much, coba ingat ingat apa yang diharpakan orangtua atau bahkan diri kita sendiri, garis besar ekspektasi kita adalah:
Expect to be challenged as you try to balance everything and expect to serve anything for your family.
Untuk memenuhi kedua ekspektasi diatas, pencapaiannya bisa kita generalisasi, hanya dengan 1 kata, yaitu uang! Dengan uang yang banyak kita bisa memenuhi kebutuhan dan memenuhi ekspektasi lainnya. Melakukan apapun demi uang, bahkan karena uang, polisi lalu lintas bisa menggunakan kewenangannya untuk 'memeras' pengguna jalan dengan cara melakukan tindakan tilang yang merupakan profesinalitas semu, nampak benar melakukan profesinya sebagai polisi lalu lintas, padahal sedang menjadi preman jalanan.
Ingin tersenyum sinis pada diri sendiri yang seringkali merasa butuh uang banyak, tapi tidak mau melakukan hal lebih, enggan karna tidak melakukannya dengan sungguh sungguh. Semua orang butuh uang, namun jika kita dihadapkan dengan pilihan: Melakukan day job dengan gaji besar atau melakukan passion-job dengan tidak mengutamakan gaji?
Jawabannya tergantung, tergantung kita sudah tau apa yang kita inginkan dan apa yang sebenarnya kita cari?
Masih terngiang nada yang terdengar sendu namun penuh gairah dari seorang pengajar jaman dulu?
"Yang penting ilmu tersampaikan, tidak di gajipun tidak apa-apa"
That's passion!
*indentifipassion : istilah rekaan doang, istilah untuk identifikasi passion diri kita :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
boleh dikomentarin koo.. mangga..mangga.. hha. whatever.