Bismillah...
Tanpa mengurangi rasa hormat ijinkan saya mengutarakan sudut pandang saya terhadap nilai dan belajar, yang akan saya sajikan dalam sebuah perjalan yaitu Perjalanan Kuliah
Tujuan Perjalanan Kuliah
Mau kemana? banyak kata yang mengutarakan apa tujuan setelah kuliah. Mencari kerja, mendapatkan pekerjaan, nikah, punya anak, jadi orangtua, lagi-lagi menitipkan anak ke sekolah, dan silahkan lanjutkan sendiri.
Ketika kita mempunyai tujuan, kita akan tahu kearah mana kita akan melangkah, tentunya penetapan tujuan ini berdasarkan kemampuan kita, kemungkinannya kecil mahasiswa refrigerasi dan tata udara melamar kerja menjadi pilot, namun bisa saja asal mempunyai keahlian di bidang tersebut, dan yakin bahwa kita mampu.
Saya masih seberani anak TK mengutarakan cita-cita saya, saya ingin menjadi dosen, dan orang yang selalu berupaya melakukan perbaikan serta perubahan, menghasilkan karya yang bermanfaat. Dengan begitu Insya Allah saya akan mati dengan tersenyum. Bagaimana denganmu?
Memilih Kendaraan
Ketika mempunyai tujuan, saatnya memilih kendaraan yang akan digunakan, tentunya jenis kendaraan ini kita yang memilih, sesuai keinginan kita, dan saya memilih kendaraan unik yaitu teknik refrigerasi dan tata udara, tidak banyak orang tahu jenis kendaraan apa ini, saya pun awalnya tidak tahu, namun inilah pilihan saya yang Allah pun mengijinkan saya memilih kendaraan ini.
Kendaraan apa yang dipilih olehmu?
Apapun yang kita lakukan, kitalah yang memilih. Jadi apa yang harus disesali? You are the person you chose to be
Apapun kendaraan yang sedang kita gunakan saat ini, silahkan kendarai dengan sepenuh hati, dengan upaya optimal, dengan cara-cara yang baik, dan peka terhadap sesama. Inilah kendaraan yang akan mengantarkan kepada tujuan kita, jangan menyesal, karena kita juga kan yang memilih? semoga perjalanan ini diridhai Allah SWT
Amanah Orangtua
Saat starter kendaraan kita diberi kepercayaan oleh orangtua untuk bisa melakukan perjalanan sendiri, kendaraannya pun telah dipercaya oleh orangtua, dengan besar harapan kelak kita akan menjadi orang yang bisa mencapai tujuan
Wow Orangtua Baru
Orangtua baru yang menunjukkan arah jalan, beliau yang kita namai dosen, seorang pembimbing, dan pendidik selama perjalanan kita. Membekali kita dengan pengetahuan dan kemampuan yang telah dipahami para dosen sejak lama, yang biasa kita namai matakuliah.
Si Pintar dan Si Malas
COP bukan segalanya, tergantung kapasitas kompresor dan pendinginan tiap unit Nilai juga bukan segalanya tergantung kapasitas pemahaman dan upaya tiap orang
Ternyata dalam perjalanan ini sama saja dengan perjalanan sebelumnya, perjalanan di sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas, segalanya bergantung pada nilai.
Kita disebut "pintar" ketika mendapatkan nilai tinggi, dan menyandang predikat "malas" [kata yang diperhalus untuk kata kebalikan dari pintar] ketika kita mendapat nilai rendah.
Padahal kapasitas dan kegemaran tiap orang berbeda-beda, orang malas itu karena apa yang dilakukannya tidak disukainya, ketika kita melakukan apa yang kita senangi maka kita akan mengerjakannya dengan sepenuh hati dengan hasil yang optimal.
Saya senang gambar grafis, tapi tidak dengan menggambar manual [menggunakan pensil dengan media kertas], dan ketika saya menemukan mata kuliah “Gambar Teknik I” yang menggambar secara manual dengan kriteria kesempurnaan yang tinggi, saya mendapat nilai rendah yaitu D, apakah sebuah aib? Tidak, dengan jelas saya berbicara saya sudah berupaya memahami, bahkan saya selalu mencobanya, ya inilah hasilnya, atau dalam kata lain, saya tidak mau berlama-lama menggeluti bidang ini, karena saya pun tidak menyukainya.
Namun ketika siapapun yang mengajak belajar bersama, menggambar grafis, menulis, karate, dan melakukan hal-hal yang saya sukai, selama saya bisa, saya bersedia dengan senang hati.
Lagipula saya menemukan beberapa teman saya yang malas belajar dikelas, tapi karya dan kemapuannya lebih dari yang belajar dikelas. Itu membuktikan Si Pintar dan Si Malas itu tidak ada.
Si Mau dan Si Tidak Mau
Kita mampu melakukannya jika kita mau
Jika saya mau terus menerus latihan menggambar secara manual, saya pasti bisa, hanya saja tidak akan sehebat karya orang yang menggemari menggambar. Apapun yang kita pelajari kita pasti bisa, asal kita mau belajar, kita mau memahami, kita mau meluangkan waktu untuk itu. Hanya saja tolong beri kami waktu dan kesempatan lebih untuk memahami lagi, karena kapasitas masing-masing orang berbeda. Tapi harus berapa lamanya itu yang kami tidak tahu.
Si Tidak Jujur : “Segalanya Bergantung Nilai”
Kami telah diberi amanah oleh orang tua untuk melakukan perjalan kuliah, saat pulang yang ditanya nilai, keberlanjutan perjalan kuliah pun bergantung pada nilai.
Nilai bukan segalanya, tapi segalanya bergantung nilai
Karena itulah dengan kapasitas tiap orang berbeda, sebagian orang mampu memahami semua dengan cepat dan kami harus berusaha lagi, sementara tugas matakuliah lain pun menumpuk, dan kami bukan warkop yang 24 jam nonstop.
Dengan begitu saat ujian, adanya tindakan yang biasa disebut “tidak jujur” hanya untuk memenuhi ekspektasi orangtua dan gengsi mahasiswa untuk mendapatkan nilai tinggi.
Kejahatan saja perlu motif, sehingga tindakan “tidak jujur” dalam ujian pun mempunyai motif, yaitu ingin mendapatkan nilai tinggi dengan kemapuan yang [maaf] pas-pasan entah karena kapasitas upaya hanya bisa sampai situ, atau karena kemauan meluangkan waktu, atau kemauan untuk menyukai matakuliah tersebut yang kurang, atau mungkin bukan bagiannya dibidang tersebut, dan banyak faktor lainnya.
Terpaksa kami melakukan segala cara untuk mendapat nilai tinggi, kalau nilai rendah semua nanti kami DO. Kasihan orangtua kami.
Si Jujur : Segalanya Tidak Bergantung Pada Kejujuran
Untuk matakuliah yang banyak hafalan, kami berupaya untuk menghafal semalam suntuk, tapi ketika ujian ada saja yang terlupakan, tapi mereka bisa melihat catatan kecil mereka.
Hasilnya nilai mereka tinggi, kami dengan kejujuran mendapat nilai rendah, ternyata hanya ada punishment untuk yang tidak jujur dalam perjalanan ini dan tidak ada reward untuk yang jujur.
Sehingga kami hanya bisa menghibur diri dengan kalimat
Orang jujur, selalu menang, dan Tuhan menyukai kejujuran
Terlanjur
Kita yang memilih perjalanan kuliah ini, jadi inilah perjalan kuliah, pendidikan sekarang sudah terlanjur terbentuk seperti ini.
Tinggal nikmati saja perjalanan ini, dengan kemauan berupaya yang optimal, dan peka terhadap sesama yang melakukan perjalanan pada jalur yang sama, bantu jika mereka perlu dibantu, dan jangan segan meminta bantuan pada orang disekitar kita.
Kita mempunyai tujuan, kita telah melakukan perjalan, saatnya menunjukkan hasil uapaya terbaik kita, dengan senyuman dan tanpa keluhan.
Sampai akhirnya mungkin suatu saat diantara kita dapat meralisasikan sistem pendidikan yang lebih mendidik, adil, dan lebih baik.
Belajar
Belajar bukan sekedar membaca, menghitung, mengingat ataupun proses belajar yang telah kita lakukan di sekolah. Belajar itu bagaimana kita dapat belajar memahami dan peka terhadap sesama, belajar membaca situasi, belajar untuk terjatuh [gagal] sehingga dapat bangkit lagi, belajar untuk mencoba sesuatu yang baru, belajar itu suatu upaya untuk meningkatkan kemapuan kita, dalam berbagai hal, dan tentunya untuk memberi manfaat bagi orang banyak.
Jadi apapun nilai dari hasil belajar dalam perjalanan kuliah, selama kita telah berupaya mari kita syukuri, karena tujuan akhir kita bukan nilai, tapi sebuah pemahaman yang bermanfaat dan bisa kita amalkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
boleh dikomentarin koo.. mangga..mangga.. hha. whatever.